Sabtu, 04 Juli 2020

Tuhan

Dengan logika dan berusaha sungguh-sungguh manusia bisa sampai pada pintu gerbang ketuhanan. Di pintu itu, tidak dapat diterima ketiadaan Tuhan. Di pintu itu jelas terpampang bahwa Tuhan harus ada. Bagaimana mana mungkin ada alam semesta termasuk di dalamnya manusia yang begitu tertata rapih dengan aturan-aturan, tanpa keberadaan sang Pencipta = Tuhan. 

Namun manusia tidak pernah akan mengetahui sifat-sifat ketuhanan Tuhan yang sesungguhnya, karena akalnya terbatas dan sumber pengetahuan ketuhanan bagi akal juga terbatas. Tidak ada obyek pengamatan yang utuh dan lengkap yang bisa mengantarkan kepada sifat-sifat Tuhan sempurna. Tuhan bukan makhluk inderawi. Tuhan bukan obyek. Dialah pencipta indera manusia. Dialah yang memberi kesan adanya obyek pada pemikiran manusia. Tuhanlah yang harus menerangkan sendiri siapa Diri-Nya kepada manusia agar Dia dikenali dengan sebenarnya bukan hanya berdasarkan zhon atau asumsi atau prasangka saja..... Untuk itu maka munculah utusan Tuhan. 

Namun sayang, keberadaan utusan yang sebenarnya kadang tidak dikenali dengan mudah tapi harus dicari dengan kesungguhan.... karena banyak orang yang mengaku bahwa dirinya utusan Tuhan dengan ajaran yang berbeda-beda, padahal kebenaran yang sungguhnya tidak mungkin mengandung dua nilai atau lebih yang saling bertolak belakang. Orang yang bersungguh-sungguh dengan usaha keras dan doa yang tulus serta rendah hati dan jiwa pantang menyerah serta kesabaranlah yang mungkin mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan yang sebenarnya..... 

Ya Allah Tuhan yang sebenarnya yang mendengar permohonan hamba-NYa, tunjukkan kami pada jalan yang lurus, yaitu jalan mereka yang telah Engkau utus dengan sebenar-Nya, bukan jalan mereka yang penuh dengan keangkuhan dan kesombongan sehingga Engkau murkai, bukan pula jalan mereka yang mengada-ngada berdasarkan pemikiran dan angan-angan saja. Amien.

Tiga Anugrah Besar

Kita adalah manusia yang dianugrahi akal sehat, perasaan dan keyakinan akan nilai-nilai kebenaran. 

Banyak sesuatu yang kita dapatkan dengan bantuan akal, walaupun tidak semua yang kita inginkan dapat diwujudkan dengan bantuan akal. Akal harus diberdayakan secara optimal, agar kita dapat memperoleh banyak kemudahan, misalnya dengan adanya produk teknologi canggih. 

Peduli akan perasaan adalah syarat supaya kita bisa hidup nyaman. Dengan menyertakan perasaan kita bisa merasa enak atau senang. Perasaan dapat menciptakan kasih sayang yang menghasilkan keuntungan dalam berinteraksi dengan sesama karena membuat adanya pembelaan dan perlindungan. 

Dengan pertimbangan nilai-nilai keyakinan kita mendapatkan keputusan sikap penolakan atau penerimaan yang harus dilakukan terhadap sesuatu agar kita tidak dipersalahkan. 

Ketiga aspek itu harus terus berkembang dinamis agar bisa berfungsi dengan baik dalam mengantisipasi kehidupan yang selalu berubah.